Jakarta, Jurnalis Bangsa – Pernah merasa gelisah karena belum ikut tren dance terbaru di TikTok? Atau buru-buru membuat video dengan backsound viral hanya karena semua teman melakukannya? Jika iya, Anda mungkin sedang mengalami FOMO atau Fear of Missing Out. Fenomena ini, menurut peneliti budaya digital dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rulli Nasrullah, menjadi salah satu pendorong utama maraknya reproduksi konten di TikTok Indonesia.

“FOMO dan TikTok itu seperti dua sisi mata uang,” ujar Rulli saat diwawancarai Sabtu (26/4/2026). Ia menjelaskan bahwa algoritma TikTok secara konsisten menyajikan konten viral kepada pengguna. Ketika sebuah tren—baik berupa sound, challenge, maupun format video—mulai populer, pengguna akan terpapar berulang kali hingga muncul dorongan psikologis untuk ikut serta.
“Lama-lama muncul perasaan ‘Saya harus ikut, kalau tidak saya akan ketinggalan’. Di situlah akar dari reproduksi konten massal yang kita lihat setiap hari,” jelasnya.
Menurut Rulli, fenomena ini bukan terjadi secara kebetulan. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal New Media & Society oleh Zulli dan Zulli (2020) menyebut adanya konsep “publik imitasi”, di mana algoritma platform secara aktif mendorong partisipasi pengguna dalam tren tertentu. Tekanan sosial digital—meski tidak kasat mata—menjadi semakin kuat ketika sebuah konten telah ditonton ribuan hingga jutaan kali.
“Kita merasa aneh jika tidak ikut, padahal di dunia nyata tidak ada yang memaksa,” tambahnya.
Lebih lanjut, Rulli menyoroti bahwa kemudahan fitur di TikTok turut mempercepat fenomena ini. Ia merujuk pada penelitian Rettberg (2022) dalam jurnal Convergence yang menyebut TikTok sebagai “platform remix” dengan hambatan teknis yang sangat rendah.
“Dulu, membuat ulang konten butuh kemampuan editing. Sekarang, dengan fitur seperti duet, stitch, atau template instan, siapa pun bisa membuat konten serupa hanya dalam hitungan detik. FOMO pun dengan cepat berubah menjadi aksi,” paparnya.
Rulli juga menilai pengguna TikTok di Indonesia memiliki kerentanan lebih tinggi terhadap FOMO dibandingkan negara lain. Hal ini dipengaruhi oleh budaya kolektivistik yang kuat.
“Di Indonesia, kita cenderung senang melakukan sesuatu secara bersama-sama. Begitu ada tren seperti #POVAnakKost atau #JogetMalamMinggu, dalam waktu singkat langsung muncul ribuan video serupa. FOMO di sini bukan hanya soal informasi, tapi juga rasa takut dikucilkan dari pergaulan digital,” ungkapnya.
Fenomena ini, lanjut Rulli, memiliki dua sisi. Di satu sisi, FOMO dapat mendorong partisipasi dan kreativitas kolektif. Banyak kreator baru muncul karena ikut tren. Namun di sisi lain, tekanan untuk terus mengikuti tren juga bisa berdampak negatif.
“Banyak pengguna mengalami kelelahan mental karena terus mengejar tren. Ada juga tekanan untuk tampil sempurna, yang berujung pada digital burnout,” katanya.
Penelitian Doreleijers dan Swanenberg dalam jurnal Language & Communication (2023) menunjukkan bahwa reproduksi konten yang sehat adalah yang dilakukan secara sadar, bukan karena tekanan sosial.
Sebagai penutup, Rulli memberikan beberapa tips agar pengguna tidak terjebak dalam FOMO. “Tidak semua tren harus diikuti. Pilih yang sesuai dengan minat dan kemampuan. Jangan membandingkan diri dengan kreator lain, dan jadikan konten sebagai bentuk ekspresi, bukan kewajiban,” pesannya.
“TikTok seharusnya menjadi ruang untuk bersenang-senang, bukan sumber tekanan,” pungkasnya.










