Bekasi, Jurnalis Bangsa – Candrabhaga: Jejak Air, Jejak Raja menghidupkan kembali jejak peradaban Kerajaan Tarumanagara melalui sebuah pertunjukan teater-tari berlokasi khusus yang reflektif di wilayah Bekasi. Karya ini berangkat dari artefak kepemimpinan Raja Purnawarman serta narasi historis penggalian kanal Candrabhaga dan Gomati, yang tidak hanya dipahami sebagai proyek infrastruktur, tetapi juga sebagai ritus kosmologis—sebuah upaya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Melalui pendekatan performatif, pertunjukan ini menelisik relasi antara manusia, kekuasaan, dan air sebagai sumber kehidupan sekaligus penanda lahirnya peradaban. Kanal-kanal yang dibangun pada masa Tarumanagara menjadi simbol penting bagaimana pengelolaan air merefleksikan visi kepemimpinan sekaligus kesadaran ekologis di masa lampau.

Diinisiasi oleh Suwarni, pertunjukan ini mengambil rute dari Saluran Irigasi Kalimalang menuju panggung luar Laboratorium Teater Korek, Universitas Islam “45” (UNISMA) Bekasi. Ruang-ruang tersebut dimaknai sebagai area adikara—persilangan antara situs sejarah, lanskap ekologis, dan ruang hidup masyarakat kontemporer. Dalam perjalanan performatif ini, penonton diajak menyusuri fragmen-fragmen artistik yang menyatu dengan ruang, tubuh, dan bunyi.
Persoalan banjir yang kerap melanda Bekasi dihadirkan sebagai refleksi atas krisis ekologis global, atau yang dikenal sebagai “triple planetary crisis”: perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Dengan demikian, pertunjukan ini tidak hanya menghadirkan narasi masa lalu, tetapi juga menjadi cermin kritis bagi kondisi lingkungan saat ini.
Candrabhaga: Jejak Air, Jejak Raja akan diselenggarakan pada 30 April 2026, pukul 16.30–19.30 WIB, dimulai dari Saluran Irigasi Kalimalang hingga Panggung Luar Laboratorium Teater Korek, UNISMA Bekasi, Jl. Cut Mutia No.83, Kota Bekasi. Titik kumpul berada di Sekolah Pascasarjana UNISMA.
Perwujudan karya ini merupakan hasil kolaborasi antara Artery Performa dan UKM Teater Korek-UNISMA, dengan dukungan berbagai komunitas dan kolektif seni, di antaranya SvaraTheater SMK Bina Karya Mandiri, Teater Maji STBA JIA, Karinding Laboratory, Koloni Semut, Kopi Yil, Sanggar Noer Institut Attaqwa KH. Noer Alie, Sanggar Wayang Golek Chandra Komara, HIRPALA Indonesia, serta UKM Mahasiswa Pencinta Alam Tapak Giri UNISMA Bekasi.
Karya ini turut didukung oleh Kementerian Kebudayaan, LPDP Kementerian Keuangan, serta Dana Indonesiana dalam kategori Penciptaan Karya Kreatif Inovatif. Melalui sinergi lintas disiplin dan komunitas, Candrabhaga: Jejak Air, Jejak Raja menjadi upaya artistik untuk merawat ingatan sejarah sekaligus menggugah kesadaran ekologis di tengah tantangan zaman.














