Menu

Dark Mode
Kerugian Negara Kasus Chromebook Kemendikbudristek Capai Rp2,18 Triliun, Dua Pejabat Divonis Penjara Tiga WNI Ditangkap di Makkah Terkait Dugaan Penipuan Haji, Polri Siapkan Pendampingan Hukum Kasus “Sel Sultan” Lapas Blitar, Tiga Petugas Direkomendasikan Sanksi Berat Prabowo Tegaskan Komitmen Sejahterakan Buruh dan Rakyat dalam Pidato May Day 2026 Mantan Istri Andre Taulany Laporkan Balik ART atas Dugaan Fitnah Pekerja UI Tuntut PKB dan Perlindungan Hak Kerja pada May Day 2026

Opini

Bukan Sekadar Copas! Rulli Nasrullah Ungkap Tren Produksi Ulang Konten di TikTok Indonesia yang Penuh Intertekstualitas

JurnalisBangsabadge-check


					Bukan Sekadar Copas! Rulli Nasrullah Ungkap Tren Produksi Ulang Konten di TikTok Indonesia yang Penuh Intertekstualitas Perbesar

 

Jakarta, Jurnalis Bangsa –  Jika Anda aktif bermain TikTok, pasti sering melihat video yang sama persis, hanya beda orang. Mulai dari gerakan dance yang identik, penggunaan backsound yang viral, hingga format video “POV” yang susunannya mirip semua. Fenomena ini kerap dituding sebagai budaya “copas” tanpa kreativitas. Namun, menurut peneliti budaya digital dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rulli Nasrullah, praktik tersebut sebenarnya bukan sekadar meniru, melainkan bentuk kompleks dari apa yang disebut sebagai intertekstualitas digital.

“TikTok itu dirancang untuk mendorong reproduksi konten,” ujar Rulli saat diwawancarai , Jumat (25/4/2026). “Fitur seperti duet, stitch, hingga penggunaan sound yang sama bukanlah kebetulan. Platform ini secara sengaja memfasilitasi pengguna untuk mengambil, mengutip, dan mengubah ulang konten orang lain. Jadi, ketika kita melihat ratusan video dengan dance yang sama, itu bukan sekadar meniru, melainkan praktik intertekstual yang disengaja.”

Rulli menjelaskan bahwa fenomena ini telah menjadi perhatian para peneliti media internasional. Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal New Media & Society pada tahun 2020 oleh Zulli dan Zulli, misalnya, menemukan bahwa TikTok telah melahirkan konsep yang disebut sebagai ‘imitasi teknologis’. Dalam penelitian tersebut, dijelaskan bagaimana algoritma dan fitur-fitur teknis platform justru ikut membentuk cara pengguna meniru dan mereproduksi konten hingga menjadi fenomena publik yang luas. “Jadi ini bukan soal malas berkarya, tapi memang desain platform-nya seperti itu,” tegas Rulli.

Lebih lanjut, dosen yang juga aktif meneliti budaya digital ini mengungkapkan bahwa reproduksi konten di TikTok tidak terjadi dalam satu bentuk yang sama. Ia merujuk pada temuan Rettberg yang dipublikasikan di jurnal Convergence pada tahun 2022. Dalam kajiannya, Rettberg menyebut TikTok sebagai ‘platform remix’ di mana setiap pengguna bisa terlibat dalam berbagai jenis reproduksi, mulai dari kutipan langsung menggunakan fitur duet, imitasi terstruktur dalam tantangan ber-hashtag, hingga transformasi makna melalui parodi. “Artinya, ketika seseorang membuat video stitch, dia sedang melakukan ‘kutipan akademik’ versi media sosial. Ada etika dan logika tersendiri di balik itu,” tambah Rulli.

Menurut Rulli, bentuk reproduksi yang paling marak di Indonesia adalah tantangan terstruktur atau challenge participation dan penggunaan ulang suara atau sound duplication. Ia mencontohkan bagaimana tantangan #JogetJakarta yang mewajibkan gerakan khas Betawi diikuti oleh ribuan pengguna dari berbagai daerah. Yang menarik, kata Rulli, penelitian yang dilakukan Doreleijers dan Swanenberg dan terbit di jurnal Language & Communication pada tahun 2023 menunjukkan bahwa dalam tantangan semacam itu, pengguna justru menggunakan stilasi dialek lokal untuk menciptakan identitas. “Di Indonesia, banyak pengguna yang mengikuti tren global tapi menyelipkan bahasa Sunda, Jawa, atau Makassar. Itu bukan sekadar ikut-ikutan, tapi bentuk penegasan identitas,” jelasnya.

Rulli juga menyoroti bahwa budaya reproduksi konten di TikTok Indonesia memiliki keunikan tersendiri dibandingkan negara lain. Menurutnya, pengguna Indonesia sangat adaptif terhadap tren global, tetapi tetap mempertahankan kekhasan lokal. “Kalau di luar negeri, tren dance tertentu mungkin diikuti secara persis. Di Indonesia, sering kali ditambahi dialog lucu dalam bahasa daerah atau dikombinasikan dengan ekspresi khas Indonesia. Ini menunjukkan bahwa intertekstualitas di TikTok tidak pernah benar-benar netral secara budaya,” ujar Rulli. Ia menambahkan bahwa fenomena ini juga menjadi bahan kajiannya dalam buku terbarunya tentang budaya media sosial.

Di akhir wawancara, Rulli memberikan pesan agar pengguna TikTok tidak takut untuk ikut serta dalam tren produksi ulang konten. Namun, ia mengingatkan pentingnya memberikan nilai tambah. “Jangan hanya sekadar menyalin. Coba tambahkan komentar kritis, modifikasi sedikit gerakannya, atau berikan konteks lokal. Dengan begitu, konten Anda tidak akan tenggelam sebagai satu dari ribuan duplikat, tetapi justru menjadi bagian dari percakapan budaya digital yang lebih hidup dan bermakna,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Takut Ketinggalan Zaman! Rulli Nasrullah Bongkar Hubungan FOMO dengan Demam Reproduksi Konten di TikTok

26 April 2026 - 15:39 WIB

FYP atau Mati Kreativitas? Rulli Nasrullah Soroti Dilema Produksi Ulang Konten di Era Media Sosial

25 April 2026 - 09:54 WIB

Titip KTP di Meja Resepsionis, Praktik Umum yang Berpotensi Langgar Perlindungan Data Pribadi

19 April 2026 - 11:34 WIB

Pertamina Lirik Tebu Jadi Bahan Baku Bioetanol, Dukung Program E20 Pemerintah

17 April 2026 - 09:19 WIB

Ketika “Inflasi Pengamat” Diperdebatkan: Kritik, Kredibilitas, dan Ruang Publik

14 April 2026 - 09:55 WIB

Trending on Opini