Jakarta, Jurnalis Bangsa – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menginstruksikan seluruh jajarannya untuk melakukan operasi pembersihan ikan sapu-sapu secara masif di seluruh wilayah Ibu Kota. Langkah ini diambil menyusul kekhawatiran atas dampak kerusakan lingkungan dan ekosistem perairan lokal yang disebabkan oleh populasi ikan invasif tersebut.

Sebagai langkah awal, aksi bersih-bersih telah dilaksanakan di kawasan Jakarta Pusat, khususnya di aliran kali sekitar Grand Hyatt dan Plaza Indonesia .
“Saya meminta bukan hanya di Jakarta Pusat, di semua wilayah yang ikan sapu-sapunya banyak untuk kita adakan operasi (pembersihan),” ujar Pramono saat memberikan keterangan pers di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Minggu (12/4).
Dampak Terhadap Infrastruktur dan Ekosistem
Pramono menekankan bahwa keberadaan ikan sapu-sapu bukan sekadar masalah estetika sungai, melainkan ancaman nyata bagi infrastruktur kota. Ikan tersebut diketahui memiliki kebiasaan membuat lubang di dinding tanah, yang berpotensi merusak struktur tanggul lingkungan.
“Kalau tidak dilakukan segera penangkapan, jumlah ikan sapu-sapu ini pasti akan berpengaruh pada ekosistem kita,” tegasnya.
Meskipun pembersihan di kawasan Plaza Indonesia belum sepenuhnya menuntaskan populasi yang ada, Gubernur menilai langkah tersebut sebagai kontribusi positif bagi kelestarian perairan Jakarta.
Kolaborasi Lintas Sektoral
Operasi pembersihan di jantung kota tersebut melibatkan kolaborasi antara: Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat. Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Provinsi DKI Jakarta. Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU).
Penanganan Pasca-Penangkapan
Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, menjelaskan bahwa fenomena ikan sapu-sapu adalah tantangan lama yang kembali mencuat. Sebelumnya, penanganan serupa sempat berhasil dilakukan di aliran Kali Ciliwung.
Hasudungan menyebutkan bahwa ikan-ikan yang berhasil dijaring akan dibawa ke Pusat Produksi Inspeksi dan Sertifikasi Hasil Perikanan (PPISHP) Ciganjur untuk penanganan lebih lanjut.
“Bangkai ikan sapu-sapu yang telah mati akan dikubur. Daya tahan ikan ini sangat kuat; jika tidak dipastikan benar-benar mati, mereka masih bisa bertahan hidup meski tanpa air dalam waktu tertentu,” jelas Hasudungan.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berharap melalui operasi rutin ini, keseimbangan ekosistem sungai dapat kembali pulih dan ketahanan infrastruktur tanggul di pemukiman warga tetap terjaga.









