Yogyakarta, Jurnalis Bangsa – Sempat ramai di media sosial terutaman di tik-tok Seorang seniman sepuh, Suhardiyono Kibar atau akrab disapa Mbah Kibar, memilih tetap berkarya di usia senjanya demi melunasi utang ratusan juta rupiah yang membelitnya. Di usia 76 tahun, ia menolak meminta belas kasihan dan bersikeras mengandalkan kemampuan melukis sebagai jalan keluar.
Mbah Kibar saat ini memiliki utang sebesar Rp500 juta atas namanya. Beban tersebut bahkan mengancam tanah warisan keluarganya untuk disita oleh pihak bank.

Meski berada dalam tekanan ekonomi, Mbah Kibar tetap teguh pada prinsip hidupnya. Selama puluhan tahun, ia telah menghidupi keluarga dari hasil menjual lukisan. Karya-karyanya pun tidak asing di dunia seni, termasuk melalui sejumlah pameran, bahkan pameran tunggal dalam beberapa tahun terakhir.
“Saya profesional saja. Saya nggak perlu didonasi. Saya masih mampu untuk melukis,” ujar Kibar saat ditemui di rumah joglo miliknya di kawasan Ngemplak.
Cobaan yang dihadapi Mbah Kibar tak berhenti pada persoalan utang. Rumah yang ia tempati di wilayah Banguntapan sebelumnya mengalami kerusakan parah hingga akhirnya ambruk. Kondisi tersebut sempat membuatnya khawatir, terutama saat hujan turun.
“Rumah saya ambruk, rusak berat. Kalau hujan itu ngeri,” ungkapnya.
Kini, Mbah Kibar mengaku sedikit lebih tenang setelah memiliki tempat tinggal yang lebih layak. Di rumah barunya itu, ia juga mendapatkan fasilitas untuk terus melukis, sehingga tetap dapat berkarya dan berupaya melunasi utang yang membebaninya.
Di tengah keterbatasan usia dan himpitan ekonomi, semangat Mbah Kibar menjadi cerminan kegigihan seorang seniman yang memilih berdiri di atas kakinya sendiri, menjaga martabat, sekaligus mempertahankan dedikasinya pada dunia seni.














