Jakarta, Jurnalis Bangsa – Komitmen menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata selam kelas dunia tidak hanya bergantung pada keindahan alam bawah lautnya, tetapi juga pada aspek keselamatan yang menyertainya. Hal inilah yang kembali ditegaskan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia melalui kolaborasinya dengan Divers Alert Network (DAN) dalam program “Edukasi Diving Safety 1000”.

Kegiatan yang digelar di Labuan Bajo pada 15 April 2026 ini menjadi penutup dari rangkaian Diving Safety 1000 Initiative yang telah berjalan sejak Oktober 2023. Sebanyak 50 peserta yang terdiri dari pelaku usaha wisata selam dan unsur penyelamatan, termasuk dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan Labuan Bajo dan Perkumpulan Penyelam Profesional Komodo (P3KOM), turut ambil bagian dalam pelatihan ini.

Asisten Deputi Pengembangan Produk Pariwisata Kemenpar, Itok Parikesit, menegaskan bahwa keselamatan merupakan fondasi utama dalam pengembangan wisata bahari. Terlebih, Labuan Bajo diproyeksikan sebagai destinasi prioritas berkelas dunia sesuai arah pembangunan jangka panjang nasional.
Menurutnya, aktivitas menyelam termasuk kategori usaha berisiko menengah hingga tinggi, sehingga standar keselamatan tidak bisa ditawar. Destinasi wisata, kata dia, harus mampu memberikan jaminan keamanan bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
Dalam program ini, peserta dibekali berbagai keterampilan penting, mulai dari Basic Life Support, CPR, hingga penanganan darurat dengan oksigen (Emergency Oxygen Provider). Materi disampaikan langsung oleh instruktur profesional dari National Association of Underwater Instructors, memastikan pelatihan berjalan sesuai standar internasional.
Lebih dari sekadar pelatihan, program ini juga membawa misi besar: mewujudkan zero accident dalam aktivitas penyelaman di Indonesia. Upaya tersebut berjalan beriringan dengan komitmen menjaga kelestarian ekosistem laut sebagai daya tarik utama wisata selam.
Secara keseluruhan, “Diving Safety 1000 Initiative” telah menjangkau 1.000 penerima manfaat di berbagai destinasi unggulan seperti Bali, Manado, Raja Ampat, hingga Kepulauan Seribu. Ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat reputasi Indonesia sebagai destinasi selam yang tidak hanya indah, tetapi juga aman dan terpercaya.
Presiden dan CEO DAN, Cliff Richardson, menekankan pentingnya kolaborasi global dalam membangun standar keselamatan penyelaman. Ia menyebut keberhasilan program ini bukan semata soal angka, melainkan tentang perlindungan nyawa para penyelam.
Senada dengan itu, Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores, Andhy MT Marpaung, menyatakan bahwa keselamatan merupakan fondasi utama pariwisata berkelanjutan. Pengalaman wisata yang berkualitas, menurutnya, harus selalu diiringi dengan rasa aman bagi setiap pengunjung.
Sebagai bentuk penguatan lanjutan, Kemenpar dan DAN juga menggelar “Safety Talk” pada 16 April 2026. Forum ini menjadi wadah kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk memperkuat kesadaran dan koordinasi dalam menciptakan ekosistem wisata bahari yang profesional dan berkelanjutan.
Dengan langkah-langkah konkret seperti ini, Indonesia semakin menegaskan posisinya sebagai destinasi wisata selam kelas dunia—bukan hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga karena komitmennya terhadap keselamatan dan keberlanjutan.










