Menu

Dark Mode
Kopassus Bantah Isu Panglima Tampar Seseorang di Istana Negara, Tegaskan Hoaks Ketika Rakyat Menuntut: Sorotan Aksi Aliansi Rakyat Kaltim terhadap Gubernur Rp22 Miliar untuk Kebersihan Masjid Al Jabbar, Pemprov Jabar Rinci Komponen Anggaran Peringatan Hari Kartini 2026, Menteri PPPA Soroti Tantangan Kesetaraan Gender Puan Harap UU PPRT Akhiri Kekerasan dan Diskriminasi terhadap PRT Saksi Sebut Eks Wamenaker Minta Rp 3 Miliar Terkait Pengurusan Sertifikasi K3

Headline

Peringatan Hari Kartini 2026, Menteri PPPA Soroti Tantangan Kesetaraan Gender

JurnalisBangsabadge-check


					Peringatan Hari Kartini 2026, Menteri PPPA Soroti Tantangan Kesetaraan Gender Perbesar

 

Jakarta, Jurnalis Bangsa – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, menyatakan bahwa peringatan Hari Kartini tahun 2026 masih diwarnai berbagai tantangan dalam mewujudkan kesetaraan gender di Indonesia.

“Berbagai tantangan menuju kesetaraan gender masih terus kita hadapi. Dalam konteks hari ini, tantangan tersebut hadir dalam berbagai bentuk ketimpangan akses, partisipasi, kontrol dalam proses pelaksanaan pembangunan, dan manfaat yang didapat perempuan dari hasil pembangunan,” kata Arifah dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Ia menjelaskan, capaian Indeks Pembangunan Gender (IPG) dan Indeks Ketimpangan Gender (IKG) sebagai indikator keberhasilan pengarusutamaan gender di Indonesia masih menunjukkan adanya pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), IPG Indonesia pada 2024 tercatat sebesar 91,85. Angka ini menunjukkan tren peningkatan pembangunan perempuan dari tahun ke tahun, meski laju peningkatannya relatif lambat dalam satu dekade terakhir.

“Perempuan Indonesia masih mempunyai persoalan dalam akses terhadap ekonomi, pendidikan, dan kesehatan,” ujarnya.

Sementara itu, IKG pada 2024 berada di angka 0,421. Meski mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, angka tersebut masih mencerminkan adanya ketimpangan dalam aspek kesehatan reproduksi, pemberdayaan, dan partisipasi ekonomi perempuan.

Sejumlah indikator turut memperkuat gambaran tersebut. Perempuan yang melahirkan di luar fasilitas kesehatan masih mencapai 24,8 persen. Selain itu, proporsi perempuan yang melahirkan pertama kali di usia di bawah 20 tahun juga masih terjadi.

Di sektor ketenagakerjaan, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan tercatat sekitar 56,42 persen, jauh di bawah laki-laki yang mencapai 84,66 persen.

Ketimpangan juga terlihat di bidang politik. Keterwakilan perempuan di parlemen masih terbatas, yakni sekitar 15 persen di DPRD kabupaten/kota, 15 persen di DPRD provinsi, dan 22 persen di DPR RI.

Lebih lanjut, Arifah menekankan bahwa kesenjangan gender juga tampak dari sebaran wilayah. Tercatat sebanyak 13 provinsi berada dalam kategori IPG rendah, yang menunjukkan ketimpangan signifikan dan membutuhkan perhatian serius.

“Sehingga, negara harus terus hadir dan berupaya memperkuat pemberdayaan perempuan melalui arah kebijakan pembangunan nasional,” kata dia.

Ia menambahkan, penguatan pemberdayaan perempuan sejalan dengan Asta Cita ke-4, yang menegaskan komitmen pemerintah dalam pembangunan sumber daya manusia, termasuk di dalamnya kesetaraan gender serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Kopassus Bantah Isu Panglima Tampar Seseorang di Istana Negara, Tegaskan Hoaks

21 April 2026 - 21:11 WIB

Ketika Rakyat Menuntut: Sorotan Aksi Aliansi Rakyat Kaltim terhadap Gubernur

21 April 2026 - 20:37 WIB

Rp22 Miliar untuk Kebersihan Masjid Al Jabbar, Pemprov Jabar Rinci Komponen Anggaran

21 April 2026 - 19:14 WIB

Puan Harap UU PPRT Akhiri Kekerasan dan Diskriminasi terhadap PRT

21 April 2026 - 15:41 WIB

Saksi Sebut Eks Wamenaker Minta Rp 3 Miliar Terkait Pengurusan Sertifikasi K3

21 April 2026 - 14:09 WIB

Trending on Headline