JAKARTA – Industri perfilman nasional tengah bertransformasi seiring meningkatnya literasi penonton. Fenomena kuatnya penetrasi film horor asal Korea Selatan menjadi bahasan utama dalam diskusi panel “Pengaruh Film Horor Korea di Indonesia” edisi ketiga.
Diskusi menghadirkan sutradara senior Toto Hoedi, produser Herty Purba dari Heart Pictures, serta praktisi film Nanang Istiabudi, dengan moderator Irfan Handoko.

Penonton Makin Kritis
Para panelis sepakat, penonton Indonesia kini jauh lebih cerdas dan selektif. Akses film global membuat standar kualitas meningkat, baik dari sisi storytelling maupun visual.
Nanang Istiabudi:
“Sekarang penonton tidak cukup hanya takut. Mereka mencari logika cerita dan kualitas visual. Film Korea itu detail, rapi, dan terasa profesional, sehingga dianggap layak bayar.”
Medis vs Mistis
Secara budaya, Indonesia dan Korea memiliki kemiripan mitos supranatural. Namun pendekatan cerita berbeda. Film Korea tetap mengedepankan logika faktual—karakter yang terluka tetap dibawa ke rumah sakit—sementara horor Indonesia cenderung menyelesaikan konflik melalui jalur mistik.
Toto Hoedi:
“Horor boleh mistis, tapi harus tetap punya pijakan logika. Itu yang membuat film terasa lebih nyata dan dipercaya penonton.”
Dukungan Ekosistem
Herty Purba menyoroti kuatnya dukungan pemerintah Korea terhadap industri kreatif, termasuk kemudahan perizinan lokasi syuting.
Herty Purba:
“Ekosistem mereka tertata. Perizinan jelas dan cepat. Di Indonesia, tantangan birokrasi dan biaya sering menjadi hambatan produksi.”
Diskusi juga menyinggung praktik produksi kilat di dalam negeri yang berdampak pada kualitas. Para sineas mendorong riset urban legend yang lebih mendalam serta adaptasi tren baru tanpa kehilangan identitas lokal.
Apresiasi FFHoror 2026
Dewan Juri FFHoror yang diketuai Ncank Mail bersama Satria Sabil, Rio Apriciandhito, Nuty Larasaty, Dandung P. Hardoko, dan Dudy Novriansyah menetapkan pemenang periode 13 Januari–13 Februari 2026:
Film Terhoror: Setan Alas
Sutradara Terbaik: Yusron Fuady
Aktor Terbaik: Rangga Azof (Kafir Gerbang Sukma)
Aktris Terbaik: Putri Ayudia (Kafir Gerbang Sukma)
Tata Gambar (DOP): Dowa Ju Seyo (Tolong Saya) – Nur Muhammad Taufiq & Sjahfasyat Bianca
Refleksi ini menjadi pengingat bahwa profesionalisme produksi dan penguatan ekosistem menjadi pekerjaan rumah penting, agar film horor Indonesia tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri.













