Menu

Dark Mode
Wamenpar Apresiasi Jawa Timur atas Pengembangan Desa Wisata Berkelanjutan Polda Metro Jaya Bongkar Laboratorium Narkotika Tersembunyi di Apartemen Tangerang, WN Malaysia Ditangkap Puluhan Siswa SD di Rembang Diduga Keracunan, SPPG Sebut Gejala Muncul Sebelum Konsumsi MBG Delapan Terdakwa Kasus Pemerasan RPTKA Hadapi Sidang Vonis di PN Jakpus Roy Suryo Tetap Bersikukuh Meski Sejumlah Tersangka Tempuh Restorative Justice PKS Sebut Pergantian Ketua DPRD DKI Keputusan DPP, Khoirudin Dapat Tugas di Pusat

Lifestyle

FFHoror: Film Horor Korea Tren di Indonesia

JurnalisBangsabadge-check


					FFHoror: Film Horor Korea Tren di Indonesia Perbesar

JAKARTA – Industri perfilman nasional tengah bertransformasi seiring meningkatnya literasi penonton. Fenomena kuatnya penetrasi film horor asal Korea Selatan menjadi bahasan utama dalam diskusi panel “Pengaruh Film Horor Korea di Indonesia” edisi ketiga.

Diskusi menghadirkan sutradara senior Toto Hoedi, produser Herty Purba dari Heart Pictures, serta praktisi film Nanang Istiabudi, dengan moderator Irfan Handoko.

Penonton Makin Kritis

Para panelis sepakat, penonton Indonesia kini jauh lebih cerdas dan selektif. Akses film global membuat standar kualitas meningkat, baik dari sisi storytelling maupun visual.

Nanang Istiabudi:

“Sekarang penonton tidak cukup hanya takut. Mereka mencari logika cerita dan kualitas visual. Film Korea itu detail, rapi, dan terasa profesional, sehingga dianggap layak bayar.”

Medis vs Mistis

Secara budaya, Indonesia dan Korea memiliki kemiripan mitos supranatural. Namun pendekatan cerita berbeda. Film Korea tetap mengedepankan logika faktual—karakter yang terluka tetap dibawa ke rumah sakit—sementara horor Indonesia cenderung menyelesaikan konflik melalui jalur mistik.

Toto Hoedi:

“Horor boleh mistis, tapi harus tetap punya pijakan logika. Itu yang membuat film terasa lebih nyata dan dipercaya penonton.”

Dukungan Ekosistem

Herty Purba menyoroti kuatnya dukungan pemerintah Korea terhadap industri kreatif, termasuk kemudahan perizinan lokasi syuting.

Herty Purba:

“Ekosistem mereka tertata. Perizinan jelas dan cepat. Di Indonesia, tantangan birokrasi dan biaya sering menjadi hambatan produksi.”

Diskusi juga menyinggung praktik produksi kilat di dalam negeri yang berdampak pada kualitas. Para sineas mendorong riset urban legend yang lebih mendalam serta adaptasi tren baru tanpa kehilangan identitas lokal.

Apresiasi FFHoror 2026

Dewan Juri FFHoror yang diketuai Ncank Mail bersama Satria Sabil, Rio Apriciandhito, Nuty Larasaty, Dandung P. Hardoko, dan Dudy Novriansyah menetapkan pemenang periode 13 Januari–13 Februari 2026:

Film Terhoror: Setan Alas

Sutradara Terbaik: Yusron Fuady

Aktor Terbaik: Rangga Azof (Kafir Gerbang Sukma)

Aktris Terbaik: Putri Ayudia (Kafir Gerbang Sukma)

Tata Gambar (DOP): Dowa Ju Seyo (Tolong Saya) – Nur Muhammad Taufiq & Sjahfasyat Bianca

Refleksi ini menjadi pengingat bahwa profesionalisme produksi dan penguatan ekosistem menjadi pekerjaan rumah penting, agar film horor Indonesia tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Wamenpar Apresiasi Jawa Timur atas Pengembangan Desa Wisata Berkelanjutan

22 April 2026 - 14:43 WIB

Menpar Apresiasi Bali Spirit Festival 2026

20 April 2026 - 20:30 WIB

Seniman 76 Tahun Berjuang Lunasi Utang Rp500 Juta Lewat Lukisan

19 April 2026 - 21:08 WIB

TMII Rayakan HUT ke-51, Hadirkan 1.000 Penari dari 34 Provinsi Bidik Rekor MURI

19 April 2026 - 14:18 WIB

Kementerian Kebudayaan Berencana Menyesuaikan Distribusi Pendanaan Bagi Festival Film di Berbagai Daerah

19 April 2026 - 09:09 WIB

Trending on Budaya Sastra